Perbankan

Perbankan Andalkan Digitalisasi untuk Jaga Pertumbuhan Kartu Kredit

Perbankan Andalkan Digitalisasi untuk Jaga Pertumbuhan Kartu Kredit
Perbankan Andalkan Digitalisasi untuk Jaga Pertumbuhan Kartu Kredit

JAKARTA - Industri kartu kredit di Indonesia menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2025, di mana terjadi penurunan laju pertumbuhan transaksi kartu kredit dibandingkan tahun sebelumnya. 

Meski demikian, para pelaku industri perbankan tetap optimis dengan menggencarkan digitalisasi layanan untuk mendongkrak transaksi kartu kredit. 

Bank-bank besar di Tanah Air kini semakin fokus pada peningkatan inovasi digital guna mengikuti perubahan preferensi nasabah yang semakin bergantung pada teknologi dan kemudahan transaksi online.

Menurut data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), hingga November 2025, volume transaksi kartu kredit tercatat mencapai 466,6 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp 422,7 triliun. 

Meski angka transaksi masih cukup besar, angka ini menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2024, yang tercatat sebesar 459,98 juta transaksi dengan nilai Rp 454,82 triliun. 

Hal ini menandakan bahwa tren pertumbuhan kartu kredit mulai melandai, memaksa sektor perbankan untuk beradaptasi agar bisnis ini tetap bertumbuh.

Inovasi Digital Jadi Kunci Strategi Perbankan

Salah satu alasan utama penurunan transaksi kartu kredit pada 2025 adalah berkurangnya kontribusi sektor perjalanan dan hiburan, yang selama ini menjadi pendorong utama untuk transaksi kartu kredit. 

Meski demikian, sektor ritel dan e-commerce tetap berkontribusi positif, menunjukkan adanya pergeseran pola transaksi masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja secara online. 

Untuk mengimbangi tren ini, bank-bank penerbit kartu kredit pun mulai mengandalkan inovasi digital dalam upaya mereka menggenjot transaksi.

Steve Marta, Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), menjelaskan bahwa meskipun volume transaksi dan nilai kartu kredit mengalami pertumbuhan, laju pertumbuhannya tidak sebesar tahun sebelumnya. Meski demikian, kualitas pinjaman kartu kredit tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berada di kisaran 2%.

 "Ini cukup baik untuk pinjaman tanpa agunan," ungkap Steve dalam keterangannya.

Sebagai respons terhadap tren yang melambat, AKKI menargetkan pertumbuhan volume transaksi kartu kredit di level 7-10% untuk tahun ini. Berbagai strategi pun telah ditempuh, seperti meningkatkan fitur transaksi dengan skema cicilan, transaksi contactless, hingga menyediakan metode pembayaran QRIS yang semakin digemari oleh masyarakat. 

Hal ini menunjukkan bahwa industri kartu kredit berupaya untuk menyesuaikan layanan mereka dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.

Penyesuaian Bunga dan Peran Bank Mandiri dalam Digitalisasi

Bank Mandiri, sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, turut merasakan dampak dari melandainya pertumbuhan transaksi kartu kredit. Namun, mereka berhasil mencatatkan pertumbuhan positif pada tahun 2025, dengan kenaikan transaksi kartu kredit mencapai 11% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Agus Hendra Purnama, SVP Credit Cards Group Bank Mandiri, menyatakan bahwa pencapaian ini didorong oleh pengoptimalan fitur digital yang ada pada aplikasi Livin’ by Mandiri, superapp milik Bank Mandiri.

Melalui aplikasi ini, nasabah Bank Mandiri dapat memanfaatkan berbagai fitur kartu kredit, termasuk pembayaran virtual account sebagai salah satu metode pembayaran yang lebih fleksibel dan efisien. Selain itu, aplikasi Livin’ by Mandiri mempermudah proses pengajuan kartu kredit bagi nasabah. 

"Itu memberi dampak besar pada pertumbuhan bisnis kartu kredit karena nasabah bisa langsung apply kartu kredit melalui aplikasi," jelas Agus.

Berkat upaya digitalisasi ini, Bank Mandiri juga berhasil menjaga kualitas kreditnya, dengan rasio NPL kartu kredit yang tetap terjaga di bawah rata-rata industri. Bahkan, Bank Mandiri terus berkomitmen untuk menjaga kualitas pembiayaan melalui program restrukturisasi kredit bagi nasabah yang mengalami kesulitan dalam membayar kewajibannya.

 Inovasi seperti ini membuat Bank Mandiri semakin siap untuk menghadapi tantangan di tahun 2026.

Masa Depan Kartu Kredit di Tengah Persaingan Digitalisasi

Di tengah semakin berkembangnya teknologi digital dan pesatnya pertumbuhan e-commerce, sektor kartu kredit diprediksi akan terus bertransformasi. Meskipun transaksi kartu kredit menunjukkan tren melandai pada 2025, perubahan tersebut membuka peluang besar bagi perbankan untuk memperkenalkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat digital.

Ke depan, bank-bank penerbit kartu kredit kemungkinan besar akan semakin mengandalkan teknologi dalam memfasilitasi transaksi, termasuk melalui aplikasi mobile, pembayaran digital, dan teknologi lain seperti transaksi contactless. Dengan meluncurkan layanan yang lebih fleksibel dan mudah digunakan, bank berharap dapat mempertahankan relevansi kartu kredit di tengah perkembangan pesat dalam sektor pembayaran digital.

Selain itu, meskipun diskusi mengenai penyesuaian bunga kartu kredit masih berlangsung, Bank Indonesia telah menetapkan bunga kartu kredit maksimum pada 1,75%. Namun, jika pasar tetap melambat, pihak perbankan akan terus memantau dan berkoordinasi dengan BI untuk mencari solusi agar industri kartu kredit tetap tumbuh. 

"Kami masih menunggu arahan dari BI jika ada perubahan," ujar Steve Marta.

Dengan demikian, meskipun angka transaksi kartu kredit cenderung stagnan, upaya digitalisasi dan inovasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan sektor ini. 

Tidak hanya itu, digitalisasi juga membuka potensi besar bagi pertumbuhan di masa depan, di mana layanan kartu kredit bisa lebih terintegrasi dalam ekosistem transaksi digital yang lebih luas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index