JAKARTA - Kebiasaan kembali tidur setelah sahur sering menjadi perbincangan ketika Ramadan tiba.
Banyak orang merasa tubuh masih lelah setelah bangun dini hari untuk makan sahur, sehingga memilih beristirahat kembali sebelum memulai aktivitas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang boleh atau tidaknya tidur lagi setelah sahur menurut ajaran Islam.
Sebagian merasa khawatir kebiasaan tersebut dapat mengurangi nilai ibadah, sementara yang lain menganggapnya sebagai kebutuhan fisik yang wajar.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, perubahan pola tidur selama Ramadan memang sulit dihindari. Waktu istirahat malam menjadi lebih singkat karena harus bangun sebelum fajar, sedangkan aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa.
Oleh sebab itu, memahami hukum tidur setelah sahur menjadi penting agar umat Islam dapat menyeimbangkan kebutuhan tubuh dengan kewajiban ibadah.
Penjelasan para ulama menunjukkan bahwa persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan tidur itu sendiri, melainkan dampak yang ditimbulkan terhadap kewajiban utama seorang Muslim.
Penjelasan Umum Tentang Tidur dalam Islam
Tidur merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang diakui dalam Islam. Bahkan, ketika diniatkan untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh agar mampu beribadah dengan baik, tidur dapat bernilai ibadah. Tidak terdapat larangan umum mengenai waktu tidur selama tidak menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan.
Selama Ramadan, pola tidur umat Islam biasanya berubah karena adanya sahur di waktu dini hari. Banyak orang merasa mengantuk setelah makan sahur sehingga memilih tidur kembali.
Kebiasaan ini termasuk hal yang umum terjadi di berbagai tempat, karena tubuh memang membutuhkan penyesuaian terhadap perubahan jadwal istirahat.
Meski demikian, ada hal penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu kewajiban menunaikan shalat Subuh. Jika tidur kembali menyebabkan seseorang melewatkan shalat wajib, maka hal tersebut menjadi persoalan serius. Dalam kondisi seperti ini, kewajiban ibadah harus lebih diutamakan daripada keinginan untuk beristirahat tambahan.
Hadits Tentang Keberkahan Waktu Pagi
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadits ini menunjukkan bahwa waktu pagi memiliki nilai keberkahan yang besar bagi kehidupan seorang Muslim. Banyak ulama menafsirkan bahwa setelah shalat Subuh merupakan saat yang baik untuk beribadah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, maupun memulai pekerjaan. Karena itu, memanfaatkan waktu pagi dianggap lebih utama dibandingkan kembali tidur tanpa kebutuhan yang jelas.
Selain itu, Rasulullah dikenal tidak menyukai tidur sebelum waktu Isya serta tidak menganjurkan berbincang panjang setelahnya tanpa keperluan.
Pola tersebut menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan waktu malam dan pagi agar tetap produktif serta bernilai ibadah. Waktu pagi dipandang sebagai kesempatan untuk meraih keberkahan melalui aktivitas yang bermanfaat.
Hukum Tidur Lagi Setelah Sahur Menurut Ulama
Secara umum, para ulama menjelaskan bahwa hukum tidur kembali setelah sahur adalah mubah atau boleh. Tidak terdapat dalil yang secara tegas melarangnya. Namun, kebolehan ini tetap berkaitan dengan kondisi dan akibat yang ditimbulkan dari tidur tersebut.
Apabila seseorang telah menunaikan shalat Subuh tepat waktu dan tidak memiliki kewajiban lain yang terabaikan, maka tidur kembali diperbolehkan.
Terlebih jika tubuh benar-benar membutuhkan istirahat agar mampu menjalani puasa dengan baik sepanjang hari. Islam mengajarkan keseimbangan dan tidak memberatkan pemeluknya dalam menjalankan ibadah.
Sebaliknya, jika tidur setelah sahur menyebabkan kelalaian terhadap shalat Subuh, pekerjaan, atau tanggung jawab lain yang wajib ditunaikan, maka hukumnya dapat berubah menjadi makruh bahkan haram. Penilaian ini tidak terletak pada aktivitas tidurnya, melainkan pada dampak yang muncul. Oleh karena itu, setiap orang perlu menilai kondisi dirinya secara jujur agar tidak terjerumus dalam kelalaian.
Sikap Terbaik Setelah Sahur di Bulan Ramadan
Sikap yang paling dianjurkan setelah sahur adalah tetap menunaikan shalat Subuh tepat pada waktunya. Setelah itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta melakukan amalan kebaikan hingga matahari terbit. Aktivitas ini memiliki keutamaan pahala yang besar dan menjadi kesempatan meraih keberkahan di waktu pagi.
Namun, apabila seseorang merasa sangat lelah, tidur sebentar setelah Subuh tetap diperbolehkan selama tidak berlebihan dan tidak mengganggu kewajiban lainnya.
Mengatur waktu istirahat dengan bijak, seperti memasang alarm agar tidak terlambat bangun, dapat membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan fisik dan tanggung jawab harian.
Ramadan sejatinya merupakan bulan latihan kedisiplinan, termasuk dalam mengatur waktu tidur. Pola istirahat yang terjaga dengan baik akan membantu meningkatkan kualitas ibadah sekaligus menjaga kesehatan tubuh. Dengan niat yang benar, bahkan aktivitas sederhana seperti tidur dapat bernilai pahala karena menjadi sarana memperkuat diri dalam beribadah.
Melalui pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa tidur lagi setelah sahur pada dasarnya diperbolehkan, selama tidak menyebabkan kelalaian terhadap kewajiban utama.
Waktu pagi tetap memiliki keutamaan besar yang sebaiknya dimanfaatkan untuk ibadah dan aktivitas bermanfaat. Keseimbangan antara istirahat dan ketaatan menjadi kunci agar Ramadan dijalani dengan penuh makna, kesehatan, dan keberkahan.